Kehamilan merupakan anugerah terindah bagi seorang wanita, begitu juga dengan saya, detik-detik menyambut kelahiran buah hati tercinta membuat saya menyiapkan segala sesuatunya. Sama seperti ibu-ibu yang lainnya, saya ingin melahirkan secara alamiah dengan jalan yang telah dianugerahi oleh Tuhan melalui partus normal, akan tetapi kenyataan berkata lain, karena alasan medis akhirnya saya harus merelakan diri untuk melahirkan secara SC.

Berawal pada usia kehamilan 37 minggu, dokter melakukan pemeriksaan dalam (PD) untuk memastikan apakah saya bisa melahirkan secara normal. Dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan bahwa saya harus melahirkan secara SC karena lebar panggul yang sempit dan bentuknya tidak pas dengan kepala bayi. Mendengar hasil tersebut saya sempat sedih dan putus asa karena harapan melahirkan secara normal pupus. Saya pikir dokter tersebut tidak pro normal karena memutuskan saya harus SC. Akhirnya saya mencari 2nd opinion dengan melakukan pemeriksaan PD lagi ke bidan (karena bidan pasti pro normal), hasil dari cek bidan tidak menyatakan langsung bahwa saya harus SC, saya diharuskan menunggu hingga mulas, dan apabila selama pembukaan tidak ada kemajuan maka saya harus SC. Bidan menyarankan untuk banyak jongkok dan jalan kaki pagi hari selama 30 menit. Hingga usia kehamilan mendekati 40 minggu saya belum merasakan mulas atau gerakan bayi turun ke rongga panggul. Saya memutuskan untuk mencari 3rd opinion ke dokter yang berbeda, dari hasil pemeriksaan tersebut juga menunjukan kalau saya harus SC. Setelah gugling mencari-cari info seputar SC, rongga panggul sempit dan bertanya ke teman-teman yang mempunyai pengalaman yang sama akhirnya saya memtuskan untuk melakukan SC tanpa menunggu mulas dan sebagainya. Pengalaman dari teman yang mempunyai rongga panggul sempit dan memaksakan tetap normal tenyata bayi tersendat dan tidak bisa keluar sehingga harus tetap SC. Karena tidak mau mengambil resiko untuk bayi akhirnya saya memutuskan untuk SC (kalau resiko untuk saya, saya siap menghadapinya). Mengenai persalinan SC di daerah saya masih menjadi hal yang langka dan menakutkan, akan tetapi itu adalah pilihan, jika bisa normal kenapa harus SC, tentu saya akan memilih untuk normal.

Cerita berlanjut, proses SC dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2011 sesuai dengan jadwal dokter yang menangani. Saya melakukan proses SC di RSUD Cibinong. Berbeda dengan RS yang lain, saya diharuskan masuk RS pada tanggal 3 Oktober 2011 (H-1) pukul 17.00 WIB untuk cek in kamar dan dilakukan persiapan pra SC karena pasien di RS banyak. Setelah cek in kamar dan mengurus administrasi, saya diharuskan melakukan pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan urine dan darah. Pada malam hari bidan dan perawat melakukan pemeriksaan tensi darah dan denyut jantung bayi. Sejauh ini normal. Alhamdulillah. Saya diharuskan puasa makan dan minum mulai pukul 03.00 WIB keesokan harinya.

Tanggal 4 Oktober 2011 (hari H) mulai pukul 03.00 WIB saya mulai melakukan puasa makan dan minum, perawat mengharuskan saya untuk sudah mandi dan memakai baju operasi pukul 05.00 WIB. Sekitar pukul 05.30 WIB perawat datang untuk memasangkan inpus dan carteter (rasanya tidak enak waktu dipasang ini), dalam kondisi sudah mulai lemas dan mengantuk saya diberitahukan bahwa operasi akan dilakukan pukul 10.00 WIB.

Tiba saatnya saya masuk ruang operasi pukul 10.00 WIB, saya ingat momen tersebut. Dokter anestesi mulai menyuntikan obat bius melalui sumsum tulang belakang. Kemudian saya dibaringkan lagi, tangan kiri saya dipasangkan alat pengukur tensi darah, tangan kanan dipasangkan alat pemantau denyut jantung, dan dihidung dipasang selang oksigen. Setelah obat bius bekerja (rasanya seperti kesemutan), dimulailah proses pembelahan, saya masih sadar, saya ingat apa saja yang dilakukan dokter, termasuk detik-detik saat bayi dikeluarkan dari perut, dan sungguh bahagia rasanya mendengar tangisan bayi. Sayangnya saya tidak bisa melakukan proses IMD (inisiasi menyusui dini) karena kondisi saya yang lemah dan bayi harus segera dibawa ke incubator karena kekurangan oksigen, hal itu terlihat dari kuku kaki dan tangan bayi saya yang membiru (sedih dengarnya). Dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat bius saya terus berdoa dalam hati agar bayi saya baik-baik saja sementara dokter mulai menjahit bagian yang dibelah. Setelah operasi selesai saya segera dibawa ke ruang perawatan dengan kondisi masih setengah sadar, dokter mengatakan untuk tidak mengangkat kepala selama sekitar 2 jam karena jika mengangkat kepala akan mengakibatkan pusing hebat hingga muntah. Dalam kondisi setengah sadar, terbaring dan kegerahan walaupun AC on terus (padahal menurut perawat harusnya kedinginan) saya masih memikirkan kondisi bayi saya. Alhamdulillah bayi saya hanya sebentar di incubator dan nafasnya normal kembali sehingga segera bisa dipindahkan ke ruang perawatan bayi.

Saya masih diharuskan puasa hingga keadaan tubuh saya lebih enak (tidak usah menunggu buang gas). Sekitar pukul 18.00 perawat datang dan mengatakan untuk sedikit-sedikit minum, kalau tidak muntah maka bisa dilanjutkan dengan makan sedikit demi sedikit. Alhamdulillah saya tidak muntah dan tubuh saya mulai segar kembali. Perawat datang dan mengatakan kepada saya agar besok pagi saya mulai belajar miring ke kanan dan kekiri. Sekitar dini hari saya terbangun, saya mulai mencoba untuk miring kanan dan kiri walaupun rasanya masih nyeri (tidak berasa sakit hanya lumayan nyeri).

Tanggal 5 Oktober 2011 (H+1), sekitar jam 6 pagi perawat datang untuk mengecek apakah saya bisa miring kanan kiri, setelah bisa mereka mulai membantu saya untuk membersihkan badan di atas tempat tidur. Kemudian saya diwajibkan untuk belajar duduk. Rasanya takut sekali untuk duduk karena miring kanan kiri saja sudah lumayan nyeri, karena tekad yang kuat untuk segera sembuh akhirnya saat makan siang saya mulai mecoba untuk bangun dan memposisikan diri dalam posisi duduk di atas tempat tidur, bukan main rasanya sakit nyeri tapi setelah posisi duduk tercapai sudah tidak berasa lagi. Namun saat ingin berbaring kembali rasa yang sama terulang lagi. Perawat dan dokter datang untuk mengecek kembali, mereka mewajibkan saya untuk belajar berdiri mulai dini hari. Saya mulai merasa takut lagi, karena untuk duduk saja rasanya sakit dan nyeri, tetapi harus saya lakukan agar lekas sembuh.

Sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, dokter anak dan perawat datang membawa bayi saya. Karena fasilitas Room In maka sejak bayi diserahkan kepada saya, saya harus bertanggung jawab atas bayi saya, termasuk pemberian ASI dan menjaganya. Dokter mengajarkan kepada saya cara menyusui, ternyata gampang-gampang susah karena saya masih takjub dengan pengalaman baru tersebut. Pada saat bayi mulai menyusu pada payudara saya rasanya amazing sekali, tak bisa terungkapkan, disitulah mulai saya rasakan bounding ibu dan anak (akan lebih terasa pada proses IMD) hingga tidak terasa lagi rasa nyeri dan sakitnya jahitan.

Tanggal 6 Oktober 2011 (H+2), pukul 06.00 pagi perawat datang untuk mengecek apakah saya sudah bisa berdiri, tetapi saya belum mencoba lantaran takut. Akhirnya saya mulai mencoba untuk berdiri sekitar pukul 07.00, rasanya sakit sekali, saya tidak kuat dan kembali duduk. Sepertinya hal tersebut terjadi karena diri saya belum tersugesti untuk melawan rasa sakit tersebut. Akhirnya siang hari sekitar pukul 11.00 saya mencoba lagi untuk berdiri, Alhamdulillah bisa berdiri bahkan berjalan sedikit demi sedikit. Akhirnya saya bisa juga ke kamar mandi untuk bersih-bersih walaupun jalannya masih tertatih-tatih. Siang hari dokter kembali datang dan mengecek kondisi jahitan saya, setelah mengevaluasi diputuskan bahwa sore saya sudah boleh pulang, Alhamdulillah. Sebelum pulang dipasangkan plester anti air pada jahitan (rasanya senang sekali karena bisa mandi, setelah dua hari tidak mandi) dan dilakukan sosialisasi tentang ASI dan cara menyusui oleh bidan. Alhamdulillah sekitar pukul 15.00 saya sudah meninggalkan RS menuju rumah tercinta bersama buah hati kami.

Pada minggu pertama pasca SC, saya masih merasakan nyeri, jalan masih sangat lamban, dan jika bangun kadang harus dibantu. Cek pertama dilakukan seminggu setelah SC, pada pengecekkan ini plester anti air diganti dengan perban biasa agar bekas jahitan cepat mengering. Dokter mengatakan agar perban tidak terkena air saat mandi dan jika terkena harus segera dikeringkan. Karena hal tersebut sangat repot saat mandi, akhirnya saya mensiasatinya dengan menutup perban menggunakan plastic, it works.

Pada minggu kedua pasca SC, cek kedua dilakukan. Hasil cek menyatakan bahwa jahitan sudah mengering, perban sudah dapat dibuka dan saya diperbolehkan mandi seperti biasa tanpa khawatir jahitan terkena air. Pada minggu ini dokter masih memberikan saya obat yang diminum selama seminggu untuk memaksimalkan keringnya jahitan pada perut dalam. Alhamdulillah saya dinyatakan tidak perlu kembali lagi untuk cek alias putus hubungan dengan dokter :D

Saya mulai merasakan benar-benar lincah kembali pada saat sebulan setelah SC, jalan sudah makin cepat, nyeri dirasakan hanya saat bangun tidur karena otot-otot perut menyesuaikan kembali untuk aktifitas. Lambat laun nyeri itu semakin berkurang karena sering dilatih, tetapi dokter mengatakan nyeri itu kadang akan terasa pada bekas operasi.

Dari pengalaman saya semoga terpetik hikmah untuk pembaca semua. Saran saya jika memang bisa partus normal, sebaiknya hindari SC kecuali karena alasan medis yang kuat. Akan tetapi itu semua adalah pilihan terserah anda yang melaksanakan nantinya. Terima kasih.

About these ads