Waaaa sudah lama sekali saya tidak update di sini. Terakhir tahun berapa ya? hadeuhhh mendingan tidak usah dilihat deh. Blog ini khusus blog yang menceritakan keluarga eyiyi, ya keluarga saya hehe. Tetapi sudah sejak lama tidak di update, maklum ngurusin satu blog saja ribet apalagi empat. Empat? banyak amat. Iya saya ada empat blog tapi yang aktif hanya dua hehe. Mumpung sedang ada moment nih, sekalian saja deh saya update di sini.

Sudah dua hari ini Alfi anak kami agak uring-uringan. Penyebab pertama karena dia sedang tidak sehat lantaran tertular virus dari mamanya. Alfi sedang batuk pilek (batpil), nafsu makannya kurang dan seringnya uring-uringan tidak jelas. Seperti dua hari ini, saya agak susah untuk berangkat kerja karena tidak diizinkan Alfi untuk berangkat. Wah bahaya ini, masa iya mamanya tidak kerja, bisa dapat surat cinta nanti dari kantor. Apalagi saat ini saya sedang ngurusin persiapan menyambut Hari Pangan Sedunia di kelompok, kalau tidak didampingi bisa-bisa jadi berantakan. Tanggal 16 Oktober 2015 ini dunia akan merayakan Hari Pangan Sedunia. Kantor tempat saya bekerja akan merayakan pada tanggal 13 Oktober 2015. Banyak lho yang dilibatkan termasuk kami para petugasnya. Makanya saya masih bolak-balik ke kelompok dan berkoordinasi ke sana-sini.

Tetapi ada yang lebih penting di bulan Oktober yaitu hari miladnya Alfi yang jatuh pada tanggal 4 Oktober 2015 nanti. Sepertinya ini yang menjadi penyebab kedua mengapa Alfi uring-uringan terus. Sebenarnya saya dan suami sudah menyiapkan rencana untuk Alfi. Di hari jadinya nanti, Alfi mau diajak jalan-jalan kemudian diberikan kado berupa mainan konstruksi kesukaannya. Tetapi sepertinya dia sudah tidak sabar, pagi ini ketika saya sedang bekerja, Alfi menelpon saya untuk segera pulang sambil menangis. Hati ibu mana sih yang tidak tega ditelpon anaknya sambil menangis.

Saya langsung kepikiran untuk memberikan hadiah untuk Alfi hari ini saja (H-2 sebelum milad) untuk menghibur kegalauannya hehe. Selepas pulang kerja, saya langsung membelikan mainan yang Alfi mau. Benar saja kan dia senang bukan main. Semoga tidak uring-uringan lagi ya nak, mama bisa bekerja dengan tenang jadinya.

Untuk My Hunny Bunny Sweety darling Alfian, Happy milad ya nak.

happy milad

Tak mengapa deh mama tulis lebih awal, soalnya pas tanggal 4 Oktober 2015 nanti takutnya mama malah lupa update karena kita kan mau jalan-jalan hehe. Jadi anak yang sholeh ya nak, sehat selalu dan tetap menjadi Alfi yang ceria. Doa kami selalu untuk Alfi, semoga cita-cita Alfi yang katanya mau jadi supir breco bahkan lebih tinggi dari breco(kalau mama sih pengennya jadi pemimpin para breco) bisa tercapai. Aamiin.

Tak terasa Alfi sudah empat tahun, dulu masih ditimang-timang sayang, masih dituntun. Sekarang dia sudah bisa berlari sendiri, sudah bisa mengendarai sepeda tanpa dibatu. Waktu cepat berlalu, tetapi cinta kami untuk Alfi tetap ada sampai kapanpun. We love You Alfian.

Dua hari yang lalu kami akhirnya mengabulkan keinginan Alfi untuk berenang. Sejak mudik di Cianjur dia merengek untuk minta diantar ke kolam renang. Nah hari kamis kemarin waktu yang tepat untuk berenang karena badan sudah kembali fit selepas pulang mudik dari Cianjur. Biasanya kami berenang di kolam renang perumahan Puri Nirwana Cikaret Cibinong, tapi Alfi kepingin berenang di Waterboom yang ada di dekat rumah. Waterboom itu adalah Waterboom Rumah Ibu yang terletak di dekat Ruko Graha Kartika Pratama Kecamatan Bojonggede dekat dengan Sungai Ciliwung. Kalau teman-teman mau ke sana gampang kok. Rutenya dari arah Bojonggede atau Citayam teman-teman bisa ke arah pertigaan jalan baru pemda, jalan saja terus lurus ke depan hingga menemukan deretan Ruko Graha Kartika Pratama di sebelah kanannya, Waterboom terletak paling ujung ruko dekat Exselco dan dekat dengan tepi Sungai Ciliwung sebelum jembatan. Apabila dari arah Cibinong atau Karadenan lebih dekat lagi, teman-teman bisa masuk ke perempatan lampu merah jalan baru pemda Cibinong, ambil jalan yang menuju Bambu Kuning Bojonggede, nanti Waterboom-nya terletak di sebelah kiri setelah jembatan, dekat banget kok dari lampu merah.

Waterboom Rumah Ibu

Waterboom Rumah Ibu

Mari kita mulai masuk ke Waterboom Rumah Ibu. Pertama masuk kita akan mendapati parkiran cukup luas untuk mobil dan motor. Parkiran ini dijaga oleh beberapa security. Sayangnya tempat parkiran ini minim pepohonan sehingga motor atau mobil yang diparkir di sana bisa kepanasan, apalagi kita ya hehe. Memasuki gerbang kita akan disambut patung selamat datang, ambil langkah ke kiri menuju loket pembelian tiket. Harga tiketnya cukup terjangkau yaitu Rp. 50000,- per orang. Balita mulai dari usia 2 tahun sudah dikenakan tiket yang sama dengan dewasa. Tiket ini nantinya dapat ditukarkan dengan welcome drink berupa minuman teh siap minum atau es krim (pilih salah satu). Sesudah menukarnya mari kita menuju ke bawah.

Beli tiket dulu yuk

Beli tiket dulu yuk

Kios penukaran tiket dengan minuman

Kios penukaran tiket dengan minuman

Di bawah sana terdiri dari tiga kolam renang. Kolam renang pertama cukup luas untuk bermain anak-anak balita. Kolamnya dangkal yang diberi empat buah perosotan, jadi tidak membuat anak-anak berebutan. O iya di kolam ini terdapat tong raksasa yang dapat menumpahkan air. Anak-anak senang sekali menunggu air penuh hingga ditumpahkan ke bawah. Bila dibandingkan, air pada kolam ini lebih dingin ketimban dua kolam lainnya.

View Rumah Ibu dari atas

View Rumah Ibu dari atas

???????????????????????????????

Kolam pertama untuk anak-anak

???????????????????????????????

Menunggu air tumpah

Sementara itu pada kolam kedua terdapat dua perosotan yang agak besar, anak-anak bisa menaikinya sendiri atau ditemani oleh orang tuanya. Kalau kita bergerak agak ke tengah kolam ini mulai dalam seleher orang dewasa sehingga hati-hati saja, tapi jangan khawatir karena ada tandanya di bawah kolam. Di dekat kolam kedua ini ada kolam arus yang cukup panjang untuk dilalui, kolam arus ini yang menghubungkan antara kolam kedua dengan ketiga. Kalau teman-teman ingin merasakan sensasi meluncur yang lebih dasyat bisa mencobanya di kolam ketiga. Air di kolam ini cukup hangat sehingga banyak orang yang betah berlama-lama di sini.

???????????????????????????????

Kolam kedua dan ketiga

???????????????????????????????

Kolam arus

???????????????????????????????

Meluncur dari sini seru

???????????????????????????????

Tapi hati-hati karena dalamnya dua meter

Bagi teman-teman yang tidak ingin berenang tersedia tempat duduk banyak di pinggir kolam serta stand cemilan untuk cemal-cemil. Kalau dilihat memang belum terlalu banyak stand jajanannya, jadi kalau tidka mau kelaparan mending bawa bekal dari rumah. Kemarin itu Alfi sangat puas berenang 3 jam mulai dari jam 9 hingga jam 12. Sepulang dari sana kulit Alfi nampak hitam itu karena dia tidak memakai lotion atau sun block. Kalau teman-teman tidak ingin kulitnya gosong jangan lupa ya memkai lotion pelindung dari sinr UV biar tidak terbakar.

Stand jajanan

Stand jajanan

Ada arena bermain juga, cukup membyar tiket Rp. 3000,- per mainan

Ada arena bermain juga, cukup membyar tiket Rp. 3000,- per mainan

Waterboom Rumah Ibu bisa menjadi pilihan bagi teman-teman yang ingin bergembira di kolam renang terutama teman-teman yang tinggal di sekitar Bojonggede atau Cibinong. Kalau liburan Waterboom ini cukup penuh maka pintar-pintar cari waktu yang tepat biar puas menikmati semua arenanya. Terimakasih.

Walaupun lebaran telah berlalu tapi semangatnya masih ada hingga saat ini. Buat teman-teman yang masih ada di kampung halaman selamat liburan ya dan buat teman-teman yang mulai meramaikan arus balik hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan dan jangan lupa oleh-olehnya ya hehe.

Pada kesempatan ini saya mau cerita tentang mudiknya Alfi ke kampung halaman ayahnya. Deket sih cuma di Cianjur, kalau lihat peta deket banget, tapi aslinya seperti menempuh perjalanan ke Jawa Tengah karena medannya yang berkelok-kelok menuju atas bukit. Tempat ayahnya Alfi terletak di kawasan Cianjur Selatan dimana area tersebut merupakan dataran tinggi berbukit dekat Gunung Bonkok dan Gunung Masigit (mesjid). Baru denger ya ada nama gunung-gunung itu? Sama saya juga hehe. Nah supaya tidak kena macet karena kalau mau ke Cianjur harus melewati puncak akhirnya kami sekeluarga berangkat dari rumah sekitar pukul 3 pagi menuju Cianjur setelah bersantap sahur.

Barang bawaan mudik

Barang bawaan mudik

Dengan mata yang mengantuk kami menembus jalanan Bogor melewati Tol Sentul menuju gerbang Tol Ciawi, seperti perkiraan kalau pagi seperti ini puncak belum macet, kami melewati Puncak Pass menelusuri Cipanas dan tiba di Cianjur kota. Setibanya di Kecamatan Cibeber Cianjur kami menepi terlebih dahulu untuk shalat shubuh, jam menunjukkan pukul 5 pagi. Kalau sudah tiba di Cibeber itu kebanyakan orang memang isirahat terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai mendaki pada kecamatan berikutnya.

Jalanan berkabut

Jalanan berkabut

Setelah selesai kami mulai melanjutkan perjalanan melewati Kecamatan Cempaka yang mulai merupakan awal dari dataran tinggi, melewati kebun teh yang berkelok-kelok menuju Kecamatan Sukanagara yang kebanyakan berupa area hutan dengan pinggir tebing dan kecamatan Pagelaran yang mulai agak ramai dan memiliki jalan lebar. Kalau sudah sampai Pagearan tandanya Kecamatan Tanggeung semakin dekat. Kecamatan Tanggeung adalah destinasi kami. Sepanjang perjalanan kabut sangat tebal dan dingin bukan main sehigga pemandangan tidak terlalu jelas. Sebentar lagi kita sampai di Kecamatan Tanggeung, mobilnya mau minum bensin dulu karena ini SPBU terakhir sebelum tempat tujuan kami, masih ada sih SPBU selanjutnya tapi jauh di kecamatan lain. Dari sini kami siap-siap tarik napas karena tempat tujuan kami bukan kecamatannya, tapi Desa Pasir Jambu yang ada di atas bukit tepatnya kaki Gunung Bongkok yang dibawahnya merupakan daerah aliran sungai (DAS) Cibuni.

SPBU terakhir sebelum Tanggeung

SPBU terakhir sebelum Tanggeung

Dari pusat Kecamatan Tanggeung ke Desa Pasir Jambu berjarak 7 KM dengan kondisi jalan yang cenderung menanjak. Sayangnya jalannya bukanlah jalan yang mulus karena memang tanah disana labil sehingga pengaspalan yang sudah dilakukan kembali rusak sehingga tersisa batuan saja. Beberapa kali kami was-was ketika melewati tanjakan atau turunan terjal berbatu (kecuali ayahnya alfi tentunya). Sambil dihibur oleh hamparan hijau sawah dan pepohonan akhirnya kami sampai juga di tanah kelahiran ayahnya Alfi yaitu kampung cibadak. Suasana sejuk dan dingin sangat terasa di kampung ini, airnya dingin sekali karena memang bersumber dari mata air langsung. Hari pertama disini kami isi dengan istirahat dan bermain di sekitar rumah Emah (ibu mertua) saja. Alfi mulai agak rewel di tempat baru karena masih belum bisa beradaptasi, tapi dia mulai terhibur ketika Bi Eza dan Kang Hilalnya mengajak main di kolam ikan sekitar rumah.

Padinya baru dipanen

Padinya baru dipanen

Alfi bermain di kolam ikan

Alfi bermain di kolam ikan

Daerah ini memang bisa dibilang banyak airnya karena mata air mengalir disana-sini. Hampir setiap rumah yang memiliki pekarangan cukup luas memiliki empang baik besar maupun kecil yang digunakan untuk memelihara ikan. Sayangnya ada beberapa rumah yang masih menyatukan antara sumber air konsumsi dan untuk bersih-bersih dalam satu sumber di satu empang. Sepertinya diperlukan penyuluhan pada beberapa rumah yang masih menerapkan sanitasi seperti itu.

Karena mata air disini melimpah maka masyarakat mengambil alr dari mata ar tersebut dengan menggunakan selang yang panjangnya hingga bermeter-meter. Apabila air yang mengalir ke rumah tersendat maka merekapun muai menelusuri selang ke sumber airnya, cukup panjang lho jaraknya. Menurut ayahnya Alfi, karena sekarang sudah mulai banyak rumah dan luasan hutan mulai berkurang maka debit air pada mata air tidak sebanyak dulu. Wah pertambahan penduduk tidak hanya banyak di kota besar ya, di daerah yang terpencil juga kalau tidak dijaga bisa terjadi ledakan penduduk.

Selang air untuk mengambil air dari sumber mata air

Selang air untuk mengambil air dari sumber mata air

Bambu juga digunakan untuk mengairi air

Bambu juga digunakan untuk mengairi air

Sorepun tiba, Alfi mulai memakai baju panjang karena dingin sekali suhunya. Kami sudah mulai berjejer di ruang keluarga untuk menunggu waktu berbuka. Hidangan khas sunda yang identik dengan lalapan dan sambalnya sudah berjejer di depan kami. Setelah seluruh keluarga besar berkumpul, Bapak Aki (bapak mertua saya) mulai membacakan doa. Alhamdulillah waktu berbuka tiba dan kami mulai makan bersama. Setelahnya secara bersama-sama kami melaksanakan shalat magrib berjamaah yang dilanjutkan dengan shalat tarawih bersama. Hari pertama selesai dan kami semua tidur lebih awal karena masih lelah sehabis perjalanan.

Nikmatnya makan bersama

Nikmatnya makan bersama

Hari kedua, kami isi dengan menjelajahi beberapa areal di sekitarnya. Ayah mengajak kami untuk melihat pemandangan Gunung Masigit dari arah tempat kami berada. Pemandangannya indah sekali, sangat sunyi, di bawahnya terlihat Kampung Cidahu yang segain besar terdiri dari hamparan sawah dan kolam-kolam ikan. Beberapa menit kami terdiam disana melihat indahnya ciptaan Tuhan, Alfipun terlihat senang dan terduduk disana melihat burung yang masih ada bertebangan di udara. Kalau di kota sudah tidak ada pemandangan seperti ini.

Kaki Gunung Masigit

Kaki Gunung Masigit

Ayah dan Alfi menikmati pemandangan

Ayah dan Alfi menikmati pemandangan

Beberapa saat kemudian kami melanjutkan untuk berkeliling kembali. Di beberapa tempat kami menemukan lodong atau meriam bambu yang akan digunakan untuk memeriahkan malam takbiran nanti. Lodong ini diisi oleh karbit yang siap diledakkan dengan menggunakan api. Selain lodong, petasan juga akan menambah keramaian suasana bukit yang sepi. Memang sudah sejak dulu lodong ini digunakan untuk memeriahkan malam takbiran oleh masyarakat sekitar, bisa dibilang antara satu kampung dengan kampung lain saling berbalas-balasan bunyi lodong siapa yang paling nyaring. Dan benar saja setelah berbuka sambil diiringi suara takbir, bunyi lodongpun bersahut-sahutan. Saya dan Alfi segera menyingkir karena sejujurnya kami sangat takut dengan petasan atau bunyi lodong karbit.

 

Lodong karbit

Lodong karbit

Alfi menutup kuping karena takut bunyi petasan, apalagi bunyi lodong

Alfi menutup kuping karena takut bunyi petasan, apalagi bunyi lodong

Kalau di tempat Alfi tinggal, anak-anak tidak diizinkan bermain petasan oleh orang tuanya bahkan warung-warung di sekitar tempat tinggal kami tidak lagi menjual bahan peledak kecil itu karena sudah mengerti ‘mainan’ itu berbahaya bagi anak-anak. Tapi untuk di kampung Cibadak nampaknya para orang tua masih memperbolehkan anak-anaknya memainkan petasan. Saya sampai kaget karena petasan yang mereka miliki hampir satu plastik penuh. Warung-warung di sana saya lihat memang menyediakan petasan tersebut. Saya cuma bisa mengelus dada dan mencoba menenangkan Alfi yang ketakutan karena bunyi petasan. Sepupunya Alfi sendiri yang membawa satu kantong plastik petasan disuruh keluar sama Alfi hehe, syukurlah mereka mau mengalah sama Alfi yang lebih kecil untuk tidak bermain petasan di sekitar rumah.

Alhamdulillah hari Idul Fitri pun tiba, selepas shalat Ied kami sekeluarga bermaaf-maafan terhadap segala khilaf dan salah selama ini. Sayangnya nih Alfi ngambek dia kangen sama Mbah Kungnya di Bogor, tenanglah Alfi besok kan kita pulang, sekarang puas-puasin dulu ya di kampungnya ayah. Setelah menyantap ketupat lebaran kami bersama keluarga ziarah ke makam leluhur Bapak Aki dan Emah neneknya Alfi. Bapak Aki memimpin doa dan membacakan yasin bersama, subhanallah orang-orang disana hapal surat yasin, sementara saya sibuk membolak-balik buku yasin karena tidak hapal hehe. Iya di kampung cibadak memang terkenal islami, hampir anak-anak kecil disana di sekolahkan ke pesantren untuk menimba Al-quran, inilah salah satu sisi positifnya desa yang berada di bukit, anak-anaknya belum terkontaminasi kehidupan luar, selain itu ikatan persaudaraannya juga tinggi, apabila seseorang memiliki hasil panen maka akan dikirimkan ke tetangga-tetangganya untuk ikut merasakan walaupun hanya sedikit. Setelah berziarah kami sekeluarga mulai menyisir ke beberapa rumah untuk bersilaturahim. Ada yang unik di sinibiasanya panjat pinang ada sewaktu 17an tapi kalau disini diadakan lomba panjat pinang untuk menghibur anak-anak. Harap maklum karena letaknya di atas bukit jadi sangat jauh ke jalan raya dan tempat hiburan.

Ziarah ke makam leluhur

Ziarah ke makam leluhur

Panjat pinang anak2 cibadak

Panjat pinang anak2 cibadak

Tak terasa hari cepat berlalu karena keesokan harinya Mbah kungnya Alfi sudah datang menjemput. Kami sempat was-was karena si mbah salah jalan, dia ambil jalan yang sangat jelek sehingga mobil tidak kuat untuk naik ke atas ditambah medan jalan yang cukup berat. Akhirnya mobil hanya sanggup menunggu di bawah dan si mbah datang jalan kaki menuju rumah mertua saya. Alfi senang bukan main karena tau dia mau pulang ke Bogor (begini nih kalau kelamaan di kota jadi gak betah lama-lama di kampung padahal disini adem). Setelah sampai di mobil yang ada di bawah, saya melihat Bang Heri yang membawa mobil sedang bermuka tegang, rupanya dia sedang memikirkan bagaimana menaiki Tanjakan Cipandak, dia khawatir mobil tidak kuat naik. Benar saja sayapun juga was-was karena sekali melewati tanjakan tersebut mobil mundur lagi, kami diperintahkan untuk keluar semua. Saya melihatnya dari kejauhan sementara si mbah dan ayah dibantu orang-orang sekitar mendorong dari belakang ketika mobil tiba ditanjakan. Satu hingga tiga kali mobil tidak bisa naik ke atas, dan hanya sanggup ditengah-tengah tanjakan saja. Akhirnya Bang Heri memundurkan mobil lebih jauh sambil menarik napas dia mulai menancap gas lebih kencang, dan alhamdulillah mobilnya bisa naik juga. Setelah itu kami berdiam diri dulu mengatur napas setelah akhirnya sadar bahwa kami telah berhasil horeeee.

Mobil menunngu dibawah karena tanjakannya curam menuju rumah bapak aki

Mobil menunngu dibawah karena tanjakannya curam menuju rumah bapak aki

DSC_5032

Tanjakan Cipandak yang membuat kami tegang karena medannya yang licin berbatu untuk dilalui mobil

DSC_5026

Dibantu oleh beberapa orang karena sampai ditengah2 tanjakan mobil mundur lagi

 

DSC_5018

Knalpot sampai mengeluarkan asap banyak akhirnya mobil bisa naik ke atas setelah 4 kali ulangan

Perjalanan kami lanjutkan melewati Kecamatan Pagelaran, Sukanegara dan Cempaka hingga akhirnya tiba di Cibeber. Sampai disini kami istirahat sambil menyantap nasi timbel yang dibuatkan Emah. Pegel bukan main duduk beberapa jam di atas mobil.

Setelah Bang Heri agak fresh kami melanjutkan perjalanan menuju Bogor melalui puncak. Saya sih sebenernya kepingin lewat jalur alternatif yaitu melalui Jonggol karena khawatir puncak bakalan macet, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda kemacetan jadi kami melewati puncak menuju Bogor. Ketika melewati Ciloto hingga Cipanas mobil mulai jalan merayap hingga akhirya stagnan sebelum Gunung Mas. Terdengar dari Radio Megaswara yang mengabarkan agar para pengemudi sabar karena akan diberlakukan one way dari bawah menuju puncak selama tiga jam yang berarti kami harus diam di puncak selama penutupan. Awalnya kami tidak terlalu bosan disana karena bisa melihat-lihat kebun teh dan paralayang, sekaligus sesekali mengambil beberapa moment kemacetan yang belum pernah kami alami. Tetapi setibanya pukul 4 sore ternyata jalur belum dibuka juga padahal menurut informasi seharsnya sudah dibuka dan itu membuat beberapa orang termasuk kami mulai gelisah. Saya hanya bisa duduk di aspal sambil terus menghibur Alfi yang sudah mulai bosan. Cukup lama kami menunggu di sana, kalau dihitung hampir enam jam hingga akhirnya menjelang magrib polisi mulai memerintahkan untuk mengambil jalur kanan yang berarti jalur dari puncak menuju Jakarta sudah dibuka. Ahhhh lega akhirnya bisa turun juga. Bertepatan dengan itu Alfipun tertidur pulas, rupanya dia lelah karena perjalanan dari Bogor ke Cianjur memakan waktu hampir seharian dari pagi hingga malam padahal jaraknya cukup dekat.

DSC_5058

Mulai macet di puncak

DSC_5136

Orang-orang mulai keluar mobil

DSC_5085

Alfi juga mulai bosan

Begitulah cerita perjalanan mudik Alfi kemarin, banyak cerita dan hikmah yang kami dapat, yang paling diingat sekali kalau musim lebaran atau liburan apabila dari Cianjur menuju Bogor lebih baik lewat jalur alternatif melalui Jonggol apabila menggunakan mobil supaya tidak stagnan di puncak hehe. Terimakasih ya dan sampai jumpa di lebaran berikutnya. Aamiin.

Izin reblog untuk pengingat

Ataraseto

image

Beberapa waktu yang lalu setelah pengundian nomor urut capres, banyak media yang berkomentar tentang cara dan isi sambutan 3 menit yang dilakukan oleh pak Prabowo maupun pak Jokowi. Ada satu komentar menarik waktu itu kalo tidak salah komentar dari Bunda Rosa yang berkomentar dari sisi psikologi komunikasi. Beliau mengatakan bahwa dari cara pidatonya terlihat gambaran bagaimana kehidupan masa kecil masing-masing capres. Tapi di sini saya tidak tertarik untuk membahas tentang siapa capres pilihan saya. Saya hanya terkesan dengan bunda Rosa yang hanya dalam waktu 3 menit saja bisa ‘melihat dan menilai’ bagaimana para capres itu menghabiskan masa kecilnya.  Sayapun penasaran dengan itu, dan ternyata memang ada korelasinya antara pola pengasuhan dan bagaimana kelak seorang anak menjadi dewasa.  Dan pola pengasuhan pada anak ternyata ada tahapan-tahapanya. Di mana setiap tahap ada beberapa hal mendasar yang bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Oleh karena itu saya sebagai orang tua tidak akan melewatkan…

Lihat pos aslinya 385 kata lagi

Jalan bersama Mama

Jalan bersama Mama

Pagi itu kita jalan bersama

Saling beriringan, berlari dan melangkah

Tidak mendahului juga tidak saling meninggalkan

Hanya bersama

Kau dan Aku

Mama dan Alfi

Mama ingin seperti ini setiap hari

Selalu memperhatikan langkah Mu

Meskipun jalan itu berkelok, lurus, atau curam sekalipun

Agar Kau selalu berada dijalan yang benar

Dan memastikan mu selalu aman

Serta membuat mu tahu

Bahwa Mama akan selalu mengiringi langkah Mu

Jauh atau dekat

Dimanapun dan kapanpun

Untuk anakku

Alfian Dhiyaa Fahrizi BA

Love You Always

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”

Kategori

Arsip

Dikunjungi

  • 185,797 kali

Koleksi Buku

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: